Memaksimalkan penggunaan satu flash untuk membuat foto lebih berdimensi.

Dalam berbagai percakapan antara sesama fotografer seringkali dimunculkan topik bagaimana membuat foto menjadi lebih berdimensi, dan biasanya setelah itu akan berlanjut pembicaraannya mengenai penggunaan flash maupun lampu studio untuk membuat sebuah foto tersebut menjadi lebih berdimensi.Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan foto yang berdimensi? Jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut adalah foto tidak flat/datar serta tidak membosankan. Kalau mau jawaban detailnya, hmmmm… saya susah mengungkapkan, tapi bisa merasakannya. Hehehe… Karena saya bukan seorang fotografer akademisi, mari kita coba membahas sedikit dan berbagi sedikit tips praktis untuk hal ini.

Banyak cara membuat foto tersebut terlihat lebih berdimensi, salah satunya adalah dengan memperhatikan pencahayaan. Selain penggunaan cahaya yang ada (available light), umumnya fotografer menggunakan tambahan artifisial light berupa lampu studio atau speed light yang dikenal juga dengan istilah Flash. Penggunaan flash ini biasanya lebih mudah dan efisien, orang menyebut dengan nama teknik Strobist dan dalam satu pemotretan jumlah flash yang digunakan bisa beragam jumlahnya, bisa satu, dua, tiga hingga lebih untuk membuat foto sesuai dengan yang diinginkan.

Agar lebih sederhana dan mudah dimengerti, saat ini saya mau coba berbagi dengan cara membahas foto yang dibuat dengan bantuan satu flash saja terlebih dahulu.

1. Penggunaan satu flash dengan bantuan Transparant Umbrella

Seperti pada tulisan saya terdahulu, hal pertama yang saya lakukan saat akan memulai pemotretan adalah mengamati kondisi cahaya matahari. Lokasi pemotretan ini berada pada tempat yang cukup teduh dan terlindung dari cahaya matahari langsung. Dengan kondisi demikian saya memutuskan untuk menggunakan

Saya memilih menggunakan tambahan Transparant Umbrella pada flash, payung ini sangat sakti untuk melembutkan cahaya flash dan lebih praktis penggunaannya untuk strobist.

Foto 1. Penggunaan satu flash dengan bantuan Transparant Umbrella

Photo By : Purnawan Hadi

Posisi flash dapat dilihat pada Lighting Diagram dibawah ini. Power pada flash sekitar 1/4 dengan zoom 35mm, sehingga cahaya flash menyebar secara cukup merata ke model dan lingkungan sekitarnya.

http://www.lightingdiagrams.com

Nikon D90 – AF-S 18-105 VR, ISO-400, F/5, speed  1/200,  Spot Metering

Karena saya menggunakan trigger dengan tipe non HSS, speed maksimal yang dapat dibaca oleh recievernya adalah 1/200. Jadi  saya patok settingan speed pertama kali adalah 1/200. Kemudian saya mencoba mengatur bukaan Diafragma. Mungkin berbeda dengan teman teman lain yang suka memotret dengan lensa bukaan besar seperti F/1.4 atau F/1.8, saya pribadi menyukai bukaan diafragma antara F/8 hingga F/16, sehingga nyaris semua komponen di foto saya menjadi tajam dan saya membentuk dimensinya menggunakan cahaya flash. Karena kondisi sangat teduh dan terlindung pepohonan, saya hanya bisa mendapatkan F/5 itupun dengan ISO-400. Tapi menurut saya ini cukup dapat detailnya, seperti pada foto diatas.

2. Penggunaan satu flash dengan Refletor bawaan.

Pada foto berikut saya ingin menunjukkan hasil pemotretan satu flash dengan menggunakan reflektor bawaan, bentuknya bisa dilihat pada foto Light Diagram dibawah ini.

Foto 2 .Penggunaan satu flash dengan Refletor bawaan

Photo By : Purnawan Hadi

Foto ini saya ambil sekitar jam 5 sore dengan posisi pencahayaan berada dalam bayangan dinding, sehingga cahaya matahari tidak menyinari model secara langsung, sehingga dengan cahaya yang masih agak terang saya memutuskan tidak menggunakan payung seperti pada foto 1. Terilhat karakter cahaya yang dihasilkan sedikit lebih keras daripada foto pertama diatas.

http://www.lightingdiagrams.com

Nikon D90 – AF-S 35mm 1.8, ISO-200, F/5.6, speed  1/160,  Spot Metering

Flash di set dengan power sekitar 1/8 dengan zoom 50mm, flash tidak saya arahkan langsung ke model namun pada tumbuhan yang ada dilatarbelakang model. Dengan zoom 50mm, sebaran cahaya masih cukup lebar untuk menerangi model yang berada pada sisi agak kekanan. Settingan yang saya gunakan untuk ini adalah ISO-200, F/5.6, speed  1/160,  menggunakan lensa AF-S 35mm 1.8.

3. Penggunaan satu flash tanpa aksesoris lain.

Pada contoh kali ini pemotretan dilakukan dengan cahaya matahari yang sangat keras. Bisa dilihat pada bagian kanan foto yang over karena cahaya matahari. Saya menggunakan cahaya matahari yang cukup keras ini sebagai rim-light.

Foto 3 . Penggunaan satu flash tanpa aksesoris lain

Photo By : Purnawan Hadi

Kita harus sebisa mungkin memaanfaatkan serta memaksimalkan kondisi cahaya matahari ataupun cahaya yang tersedia untuk membuat dimensi pada foto. Pada kondisi matahari yang keras ini saya menggunakan flash tanpa aksesoris apapun, dengan full power dan zoom sekitar 70mm sehingga cahaya lebih terpusat pada satu arah.

http://www.lightingdiagrams.com

Nikon D90 – Tokina AF 12-28mm F4, ISO-200, F/14, speed  1/200,  Spot Metering

Saya menggunakan bukaan Diafragma F/14 sehingga selain cukup membatasi cahaya yang masuk, juga membuat detail foto jelas dari ujug ke ujung. ISO saya tarus pada posisi terendah di ISO-200 dan speed saya batasi di 1/200 karena trigger yang saya gunakan tidak mendukung fitur HSS.

Semoga tulisan saya kali ini dapat membantu rekan rekan semua yang ingin lebih mempelajari penggunaan flash. Salah satu cara yang terbaik untuk menguasai penggunaan flash ini adalah dengan terus dan terus berlatih memotret.

Salam,

Purnawan Hadi

www.purnawanhadi.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s